Selasa, 22 November 2011

KESEHATAN AYAM PEDAGING

 
Ayam merupakan jenis unggas yang paling dikenal dan banyak dibudidayakan masyarakat terutama di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan karena disamping kandungan gizinya yang tinggi, rasa dagingnya yang enak, dapat diolah menjadi berbagai aneka masakan, juga dapat diperoleh dengan mudah baik di pasar-pasar tradisional, warung serta pedagang sayur mayur maupun supermarket.

Dengan sangat familiarnya daging ayam dan ditambah lagi kesadaran masyarakat akan pemenuhan kebutuhan gizi yang semakin tinggi maka prospek pemeliharaan ayam pedaging ke depannya menjadi lebih menjanjikan. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan usaha pemeliharaan ayam pedaging ini dibanding yang lain. Keuntungan tersebut antara lain adalah: 1) Usia pemeliharaan lebih pendek (hanya 30-40 hari saja sudah bisa dipanen); 2)Harga jual yang relatif stabil karena digemari banyak orang; 3)Pakan yang relatif murah dan mudah didapat baik dibeli di pasar maupun dibuat pakan tambahan sendiri; 4)Kotorannya bisa digunakan untuk pupuk maupun pembesaran ikan yang berada dibawah kandangnya.

Ayam ras yang disebut juga dengan broiler, merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an ketika pemerintah mencanangkan penggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat (5-6 minggu sudah bisa dipanen) serta menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, sebagai peternak haruslah mengetahui berbagai jenis penyakit yang sering menyerang ayam. Penyakit tersebut antara lain adalah:

- Tetelo (Newcastle Disease/ND); Penyebabnya virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.

- Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD); Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.

- Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease); Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.

- Berak darah (Coccidiosis); Gejala penyakit ini adalah tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulai, bulu kusam menggigil kedinginan. Untuk pengendaliannya: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.

- Berak Kapur (Pullorum); Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.

Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N,P,K,Ca,Mg,Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh ayam, serta mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA ditambah dengan 1-2 tutup botol Hormonik. Atau, 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino. Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan: 1) Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain; 2)Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh; 3) Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A,D,E,K,C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.
Sanitasi/Cuci Hama Kandang
Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar