Senin, 21 November 2011

BIBIT AYAM PEDAGING

Tak bisa dipungkiri kalau daging ayam merupakan salah satu pilihan utama dalam menu keluarga dan sekaligus menjadi makanan favorit di negara kita. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan di lapangan bahwa hampir 100% penduduk Indonesia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, menyukai jenis daging ini. Atau, paling tidak menggemari beraneka makanan yang sumber bahan bakunya berasal dari daging ayam.

Selain itu, banyak sekali restoran atau warung makanan, baik yang berskala kecil, menengah, maupun besar, yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku usaha mereka. Jadi, selain dikonsumsi secara perorangan, daging ayam ini juga memiliki peluang kerjasama yang bagus dengan usaha-usaha yang berbahan baku ayam pedaging. Misalnya saja usaha catering, yang melayani acara-acara resepsi pernikahan ataupun pertemuan-pertemuan, ulang tahun dan sebagainya. Atau, permintaan secara rutin dan dalam partai besar dari hotel-hotel berbintang untuk hidangan para tamu mereka.

Lantas, apakah usaha beternak ayam pedaging merupakan salah satu peluang bisnis yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan ?
Jawabannya tentu saja iya. Sebab, berbagai keunggulan dimiliki oleh usaha Ayam pedaging atau yang lebih dikenal dengan broiler ini. Salah satu diantaranya adalah waktu pemeliharaan yang relatif singkat. Hanya sekitar 4-6 minggu saja sudah bisa dipanen. Hal ini ditambah lagi dengan tersedia dan tersebarnya sarana pemasaran baik secara tradisional maupun modern. Sebut saja misalnya pasar sayur mayur, gerobak dorong, warung-warung hingga supermarket. Semuanya itu setiap hari siap menyediakan barang dagangannya berupa ayam pedaging. Baik dalam keadaan hidup maupun sudah dipotong atau dalam bentuk karkas.

Untuk mengelola secara baik usaha peternakan ayam pedaging, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satu diantaranya adalah pemilihan dan penyediaan bibit yang baik dan unggul. Sebab, bibit adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dalam sukses tidaknya usaha peternakan.
Bibit mempunyai kontribusi sebesar 30% dalam keberhasilan suatu usaha peternakan. Apabila bibitnya baik dan unggul maka akan memberikan keuntungan lebih besar. Sebaliknya jika bibitnya tidak baik maka hasil yang diperoleh juga akan jauh dari yang diharapkan.

Bibit ayam pedaging atau yang dikenal dengan Day Old Chicken (DOC) dapat diperoleh dengan berbagai cara. Diantaranya adalah dengan membeli DOC langsung dari perusahaan pembibit (feeder), membeli telur tetas dan menetaskannya sendiri, atau membeli indukan untuk menghasilkan telur tetas kemudian ditetaskan sendiri baik secara alami atau dengan bantuan mesin penetas.
Terlepas dari cara mendapatkannya, bibit ayam pedaging yang dipilih untuk dipelihara haruslah memenuhi beberapa kriteria. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah sehat dan baik. Selain sehat dan baik juga tidak cacat pada fisiknya, berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya, mempunyai nafsu makan yang baik, memiliki ukuran badan normal dengan ukuran berat badan antara 35-40 gram. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangannya normal sesuai dengan yang diharapkan.
Ayam broiller yang sehat dan baik memiliki ciri-ciri : aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat. Disamping itu, hidung bersih, mata tajam serta lubang kotoran (anus) bersih.
 
Berbagai macam strain ayam ras pedaging telah beredar di pasaran. Peternak tidak perlu khawatir menentukan pilihannya. Semua jenis strain memiliki daya produktifitas yang relatif sama. Artinya, kalaupun terdapat perbedaan, tidak menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah : Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall"m", Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP 707.

Selain pemilihan bibit yang harus dilakukan secara selektif, peternak tidak boleh lupa dengan perawatan ternak ayam pedagingnya. Perawatan haruslah dilakukan secara rutin dan setiap saat. Apabila ada gejala kelainan sedikit saja pada bibit ternak ayam pedaging, supaya segera diberi perhatian secara khusus dan dilakukan pengobatan sesuai petunjuk Dinas Peternakan setempat. Atau, mengikuti saran dokter hewan yang bertugas di daerah yang bersangkutan.
Hal ini penting karena apabila terlambat penanganannya akan berakibat fatal. Tidak saja kepada ternak ayam pedaging yang mengalami gejala kelainan itu saja akan tetapi bisa menular dengan cepat kepada ayam yang lain. Bahkan risiko terbesarnya tidak tertolong sehingga menimbulkan kematian. (Inang Sariati) 

0 komentar:

Poskan Komentar